ABC NEWS – Langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penggeledahan di sejumlah tempat terkait dugaan korupsi di tubuh PT Pertamina (Persero) beberapa waktu mendapat respons dari anggota parlemen.
Anggota Komisi III DPR Hinca Pandjaitan dalam keterangannya, Senin (10/2), bilang, “Penggeledahan yang dilakukan Jampidsus Kejagung di Pertamina sempat heboh dan menggemparkan media. Namun, kenapa tiba-tiba hilang dan tidak ada kelanjutannya.”
Hinca lalu menyoroti minimnya keterbukaan informasi terkait proses hukum yang sedang dijalankan Kejagung.
Pendapat dia, proses hukum terhadap sebuah instansi, termasuk Pertamina yang terkesan ditutup-tutupi cukup berbahaya.
Komentar dia, “Publik jadi bertanya-tanya, ada apa dengan model penegakan hukum seperti ini. Terkesan ditutup-tutupi dan tidak transparan. Ini berbahaya. Harus ada kontrol publik.” tegas Hinca.
HInca pun menjelaskan bahwa Komisi III DPR akan segera memanggil pihak Jampidsus Kejagung untuk meminta penjelasan terkait kasus ini, serta perkara lainnya.
“Termasuk, kasus korupsi timah yang sempat dimentahkan oleh hakim karena perhitungan kerugian negara yang dianggap tidak akurat,” jelas dia.
Imbuh Hinca, “Saya akan usulkan Komisi III segera memanggil Jampidsus agar terbuka kepada publik.”
Perlu diketahui, beberapa waktu lalu pihak Kejagung telah beberapa kali melakukan penggeledahan di kantor serta kediaman petinggi Pertamina dan sejumlah subholding sejak akhir 2024.
Namun, hingga saat ini tidak ada ekspos resmi yang mengungkap hasil dari penggeledahan-penggeledahan tersebut dan menjadi tanda tanya besar di kalangan publik.
Salah satu peristiwa terbaru terjadi pada 17 Desember 2024, saat tim penyidik Kejagung mendatangi kantor subholding PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Saat itu, sekitar pukul 10.00 WIB, enam penyidik Kejagung tiba di kantor PT PHE. Konon, terjadi perdebatan sengit antara Direktur Utama PHE Chalid Said Salim dengan tim Kejagung.
Chalid dilaporkan hanya bersedia menyerahkan perangkat ponsel resmi perusahaan, namun menolak memberikan ponsel pribadinya.
Setelah melalui negosiasi, akhirnya Chalid menyerahkan laptop dan semua ponsel kepada penyidik.
(Red)