ABC NEWS – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sepanjang tahun lalu sukses memproduksi marine fuel oil low sulphur (MFO LS) atau bahan bakar minyak (BBM) rendah sulfur untuk kapal sebanyak 14,5 juta barel.
Sekretaris Perusahaaan KPI Hermansyah Y Nasroen dalam keterangan tertulis, Senin (10/2), menjelaskan bahwa perusahaan memiliki empat kilang yang mampu menghasilkan produk MFO LS.
Kilang-kilang tersebut adalah, Kilang Dumai, Kilang Balikpapan, Kilang Plaju, dan Kilang Cilacap.
Hermansyah bilang, “Marine Fuel Oil Low Sulphur merupakan jenis bahan bakar yang digunakan dalam industri perkapalan.”
Dia juga berkata, “Produk ini tentu lebih ramah lingkungan karena memiliki kandungan sulfur yang rendah.
Berdasarkan penjelasan Hermansyah, saat ini produk MFO LS semakin memiliki pasar, khususnya setelah diberlakukannya peraturan internasional yang ketat terkait emisi sulfur (belerang) dari kapal laut.
Standar ini dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO) pada 2020.
Standar baru IMO itu kemudian dituangkan dalam Keputusan Dirjen Migas No. 0179.K/DJM.S/2019 yang menyatakan pemenuhan pembatasan kadar sulfur pada bahan bakar jenis MFO dimulai efektif sejak 1 Januari 2020.
Keterangan Hermansyah, “Sepanjang tahun 2024, KPI mampu memproduksi MFO LS sebanyak 14,5 juta barel. Dari total produksi tersebut, sekitar 50 persennya diproduksi dari Kilang Dumai.”
Produk MFO LS pertama kali diproduksi Kilang Dumai pada 2020. Awalnya, produk tersebut digunakan untuk keperluan pengisian bahan bakar kapal yang bersandar di jetty Kilang Dumai.
Proses untuk melahirkan produk MFO LS pun memerlukan waktu, persiapan produksi produk dimulai sejak Juli 2019.
Serangkaian proses mulai simulasi tertulis, analisis laboratorium, hingga percobaan lapangan telah dilaksanakan hingga akhirnya diluncurkan pada Februari 2020.
Setelah diproduksi di Kilang Dumai, pada Maret 2022, Kilang Plaju juga memproduksi MFO LS.
Selanjutnya, pada Mei 2024, sumber produksi bertambah dengan kemampuan Kilang Cilacap memproduksi MFO LS.
(Red)