ABC NEWS – PT Petrosea Tbk sepanjang tahun lalu memperoleh nilai kontrak (backlog) hingga Rp 64,3 triliun.
Nilai kontrak tersebut menjadi yang terbesar diperoleh perseroan selama lebih dari lima dekade sejarah perseroan berdiri.
Chief Investment Officer Petrosea Kartika Hendrawan dalam keterangannya, dikutip Jumat (14/2), bilang, “Pencapaian ini merupakan wujud nyata kepercayaan masyarakat dan investor yang semakin besar terhadap kinerja dan prospek pertumbuhan Petrosea, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang.”
Di satu sisi, Petrosea juga mencatatkan peningkatan signifikan dalam jumlah pemegang saham setelah melakukan pemecahan saham (stock split) dengan rasio 1:10 pada awal Januari 2025.
Jumlah investor yang memegang saham perseroan melonjak dari 12.883 investor di akhir 2024 menjadi 49.796 investor pada akhir Januari 2025.
Kartika berkata, “Stock split ini menjadi katalis penting dalam meningkatkan likuiditas saham dan menarik lebih banyak investor ke dalam perusahaan kami.”
Perlu diketahui, dari total pemegang saham baru, investor institusi bertambah dari 195 menjadi 284, sedangkan investor individu meningkat hampir empat kali lipat dari 12.688 menjadi 49.512.
Sedangkan untuk pemegang saham asing bertambah dari 109 menjadi 125 investor. Petrosea juga telah menjual seluruh saham treasury yang dimiliki perseroan kepada publik pada Mei dan Juni 2024.

Melalui aksi korporasi tersebut jumlah saham free float Petrosea mencapai 27,25% per 31 Januari 2025.
Informasi lainnya, tahun lalu Petrosea memperoleh sejumlah kontrak fantastis. Misalnya, perjanjian jasa pertambangan dengan PT Pasir Bara Prima senilai Rp 17,4 triliun dan durasi life of mine.
Kemudian ada pula kontrak dengan Onshore Early Works EPC untuk proyek Ubadari, Tangguh EGR/CCUS & Tangguh Onshore Compression (UCC) senilai Rp 4,6 triliun dengan jangka waktu 24 bulan.
Petrosea juga memperoleh kontrak pengadaan dan konstruksi untuk tambang Blok Pomalaa dengan PT Vale Indonesia Tbk senilai Rp 2,8 triliun.
Petrosea menggalang sejumlah instrumen pendaan hingga mencapai lebih dari Rp 12 triliun untuk mendukung ekspansi bisnis perseroan tersebut.
Penggalangan dana tersebut antara lain, penawaran umum berkelanjutan atas Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 senilai Rp 1,5 triliun.
Penawaran tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) dan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 16 Desember 2024.
Petrosea juga mendapatkan pendanaan dari sektor perbankan hingga mencapai Rp 11,1 triliun. Adapun pihak perbankannya adalah PT BCA Tbk, PT BNI Tbk, dan PT Bank Mandiri Tbk.
(Red)