ABC NEWS – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil sejumlah saksi dalam kasus dugaan investasi fiktif di PT Taspen (Persero).
Berdasarkan informasi, pemeriksaan dilakukan pada pekan lalu. Sejumlah orang yang dipanggil tersebut salah satunya adalah Ferriyady Hartadinata, pendiri PT Hartadinata Abadi Tbk, yang kini duduk sebagai komisaris utama di perusahaan tersebut.
Hartadinata adalah perusahaan produsen perhiasan emas di Indonesia.
Juru Bicara KPK Tessa Mahardhika Sugiarto dalam keterangannya pekan lalu, bilang, “Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK.”
Perlu diketahui, pemanggilan para saksi bertujuan untuk mendalami dugaan korupsi terkait penempatan dana investasi PT Taspen sebesar Rp 1 triliun pada reksa dana RD I-Next G2 yang dikelola oleh PT Insight Investment Management.

Dugaan korupsi ini diperkirakan telah merugikan keuangan negara sekitar Rp 200 miliar. Selain Ferriyady, KPK juga memanggil Indra Wijaya (komisaris utama PT Asuransi Sinar Mas), Agung Cahyadi Kusumo (direktur utama PT FKS Multi Agro Tbk), dam Helmi Imam Satriyono (mantan direktur Keuangan PT Taspen).
Ada pula Lim Aun Seng alias Lim Seng (komisaris utama PT FKS Food Sejahtera) dan Thomas Harmanto (direktur PT Insight Investments Management).
Sekedar informasi, KPK dalam kasus ini telah menetapkan dua tersangka utama, yaitu Antonius N Kosasih (mantan direktur utama PT Taspen) dan Ekiawan Heri Primaryanto (direktur utama PT Insight Investment Management periode 2016 hingga Maret 2024).
Berdasarkan informasi, kedua tersangka terssebut berperan dalam penempatan dana investasi yang tidak sesuai dengan ketentuan, sehingga menguntungkan beberapa pihak, seperti PT Insight Investment Management (Rp 78 miliar), PT VSI (Rp 2,2 miliar), PT PS (Rp 102 juta), dan PT SM (Rp 44 juta).
Profil Ferriyady Hartadinata
Ferriyady adalah pendiri PT Hartadinata Abadi, Tbk yang memiliki pengalaman di bidang produksi dan pemasaran perhiasan emas sejak 2003.
Ia adalah lulusan Sarjana Ekonomi dari Universitas Bandung Raya pada 1999. Semula ia adalah marketing di Gold Jewellery sejak 1989-1996.
Setelah dirasa cukup, dengan pengalamannya ia lalu berinisiatif mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang perhiasan.

Mengawali kariernya di dunia perhiasan emas, Ferriyadi hanya membuka toko perhiasan di jalan Cibaduyut, Bandung dengan nama Toko Emas ACC.
Toko ini menjadi saksi pertama kali Ferriyadi memproduksi perhiasan dalam skala industri rumahan. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, toko itu terus berkembang hingga memiliki tujuh cabang di Jawa Barat.
Bisnis yang dibangun Ferriyady terus berkembang, terutama saat Indonesia mengalami krisis ekonomi. Kala itu banyak perusahaan perhiasan membatasi produksi.
Anehnya, Ferriyady justru melihatnya sebagai peluang dan mengambil sikap yang berbeda dengan para pesaingnya.
Ferriyady malah memperbesar produksi perhiasan handmade. Setelah lima tahun berjuang, pada 2003 semua jerih payahnya membuahkan hasil.
Ia berpikir, agar Hartadinata terus berkembang, maka diperlukan inovasi. Ferriyady kemudian memesan sejumlah mesin produksi yang canggih dari Jepang, Jerman, dan Italia.
Melalui konsep bisnis yang terintegrasi, Ferriyady terus membangun Hartadinata melalui empat pabrik yang menghasilkan produk perhiasan berkualitas.
Jaringan ritel toko Hartadinata kini mengusung empat merek yaitu Aurum Collection Center (ACC), Claudia Perfect Jewellery, Celine Jewellery, dan Hartadinata Abadi Store.
Hartadinata juga berinovasi dengan meluncurkan produk emas batangan seperti EmasKITA dan EMASKU, bekerja sama dengan PT Emas Antam Indonesia.
Seiring dengan pertumbuhan perseroan, saat ini Hartadinata telah memiliki tiga anak usaha, yaitu PT Gemilang Hartadinata Abadi di bidang pegadaian, PT Emas Murni Abadi di bidang pemurnian logam mulia dan PT Emas Karya Abadi di bidang bisnis reseler.
Pada 2017, Ferriyady membawa Hartadinata melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham (HRTA).
Kisah berlanjut, pada 28 Juni 2023 Hartadinata dan Bright Metal Refiners (BMR) meneken Perjanjian Kerja Sama Ekspor Perhiasan Emas dengan jumlah pemesanan minimal 4,5 ton emas.
Nilai transaksi untuk kerja sama tersebut saat itu diperkirakan sebesar USD 262,29 juta atau setara dengan Rp 3,93 triliun.
Sebelumnya, sejak Maret 2023, Hartadinata juga telah bermitra dengan Kundan Care Product Ltd. (Kundan), LP Commodities Private Limited, dan dengan Bright Metal Refiners (Bright Gold). Perseroan mendapatkan permintaan satu ton emas dengan kadar 22 karat dari masing-masing mitra setiap bulannya.
Kini, Ferriyady duduk sebagai komisaris utama di Hartadinata berdasarkan Hasil Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham pada 22 Juni 2022.
Sebelumnya ia duduk sebagai direktur utama di perusahaan tersebut sejak 2004 hingga November 2016.
(Red)