ABC NEWS – PT BTN Tbk pada 26 Maret nanti akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).
Ada sejumlah agenda di dalam RUPST tersebut. Salah satunya menetapkan perubahan pengurus perseroan, berdasarkan surat keputusan pemegang saham seri A dwiwarna, yang dalam hal ini adalah pemerintah.
Kemudian, BTN juga akan menetapkan gaji/honorarium berikut fasilitas dan tunjangan tahun buku 2025, serta tantiem/insentif kinerja/insentif khusus atau kinerja tahun buku 2024 untuk direksi dan dewan komisaris.
Saat ini BTN dikendalikan oleh 11 direksi dan sembilan komisaris. Mereka adalah, Nixon LP Napitupulu (dirut), Oni Febriarto Rahardjo (wakil dirut), Andi Nirwoto (direktur Teknologi Informasi), dan Elisabeth Novie Riswanti (direktur Manajemen Aset).
Kemudian, Jasmin (direktur Distribusi dan Pendanaan Kelembagaan), Hirwandi Gafar (direktur Konsumen), Setiyo Wibowo (direktur Manajemen Risiko), dan Nofry Rony Poetra (direktur Keuangan).
Berikutnya, Eko Waluyo (direktur SDM, Kepatuhan dan Hukum), Hakim Putratama (direktur Operasi dan Penanganan Pelanggan), serta Muhammad Iqbal (direktur Pendanaan UKM dan Ritel)
Sedangkan susunan komisaris terdiri atas, Chandra M Hamzah (komisaris utama/independen), Iqbal Latanro (wakil komut/independen), Armand B Arief (komisaris independen), dan Sentot A Sentausa (komisaris independen).
Lalu, Andin Hadiyanto (komisaris), Herry Trisaputra Zuna (komisaris), Himawan Arief Sugoto (komisaris), Adi Sulistyowati (komisaris independen), serta Bambang Widjanarko (komisaris independen).
RUPST juga akan meminta persetujuan akuisisi PT Bank Victoria Syariah oleh perseroan.
Agenda lainnya soal pelepasan atau spin off unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah untuk menjadi Bank Umum Syariah (BUS).
BTN pun hendak meminta persetujuan rancangan restrukturisasi dalam rangka pemekaran UUS pada RUPST tersebut.
Sekedar informasi, berdasarkan prospektus perseroan, BTN akan mengakuisisi seluruh saham BVIS senilai Rp 1,06 triliun.
Struktur pemegang saham BVS saat ini adalah PT Victoria Investama Tbk sebanyak 80,18 persen, PT Bank Victoria International Tbk 19,80 persen, dan Balai Harta Peninggalan (BHP) Jakarta sebanyak 0,0016 persen.
Rencananya akuisisi tersebut akan dibiayai dari sumber pendanaan internal.
Manajemen BTN menegaskan tidak akan menggunakan fasilitas pinjaman atau pembiayaan dari bank atau pun pihak manapun lainnya di Indonesia.
RUPST juga rencananya akan meminta persetujuan penggunaan laba bersih untuk tahun buku 2024.
BTN akan menetapkan penggunaan laba bersih untuk pembagian dividen tahun buku 2024.
(Red)