ABC NEWS – PT Industri Baterai Indonesia alias Indonesia Battery Corporation (IBC) memulai babak baru pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi.
Industri baterai, khususnya baterai lithium-ion, sedang mengalami pertumbuhan pesat didorong oleh peningkatan permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS).
Sejumlah pemain kunci dalam industri ini termasuk Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), LG Energy Solution, BYD, dan SK On, dengan Cina menjadi pusat produksi baterai terbesar di dunia.
Indonesia kini juga memiliki peran penting dalam rantai pasokan baterai global, terutama melalui keberadaan IBC yang bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik global.

Perlu diketahui, beberapa waktu lalu IBC telah menjadi new energy materials investment holding. Perubahan wujud menjadi new energy materials investment holding ini berfungsi untuk menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki oleh seluruh pemegang saham IBC.
Adapun para pemegang saham IBC saat ini adalah, PT Pertamina (Persero) melalui subholding Pertamina New & Renewable Energy, PT Antam Tbk, PT Inalum (Persero), dan PT PLN (Persero).
Sebelumnya, Direktur Utama IBC Toto Nugroho saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR pada 17 Februali lalu pernah bilang, “Kami sekarang disebutnya new energy materials holding.”
Dia melanjutkan, “Kenapa seperti itu? Karena untuk kita mendapatkan nilai tambah yang paling optimal dari seluruh aset kita, terutama yang di MIND ID, itu banyak sekali baterai materials yang kita bisa optimalkan.”

Perlu diketahui, ketika sudah menjadi holding, maka IBC tidak hanya cuma membuat komponen baterai listrik (EV).
Namun, semua hal yang terkait dengan bahan baku kritis (critical raw materials/CRMs) akan dieskekusi oleh IBC.
Alasannya, semua yang ada di bawah grup induk BUMN tambang, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) alias MIND ID, memiliki sumber daya alam yang lengkap, seperti nikel, cobalt, timah, batu bara, copper dan emas hingga bauksit.

Langkah awal pun telah dimulai oleh IBC. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto pun yang langsung turun tangan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Dragon yang berlokasi di Artha Industrial Hills (AIH), Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Minggu (29/6) lalu.
Hadir pula dalam peresmian tersebut, Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong, para menteri Kabinet Merah Putih, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Kemudian, Bupati Karawang Aep Saepuloh, Direktur Utama Antam Achmad Ardianto, Direktur Utama IBC Toto Nugroho, dan President Director PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) Wu Zhihui.

Proyek Dragon adalah bagian dari megaproyek ekosistem industri baterai listrik terintegrasi di Tanah Air.
Datangnya Prabowo sebagai kepala negara di peresmian tersebut menjadi tanda bahwa orang nomor satu di republik ini sangat mendorong pengembangan industri dari hulu ke hilir dengan enam subproyek yang dikembangkan di Halmahera Timur dan Karawang.
Sekedar informasi, Proyek Dragon merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sebesar USD 5,9 miliar.

Proyek yang mencakup area seluas 3.023 hektare (ha) ini diyakini mampu menyerap 8.000 tenaga kerja langsung dan 35 ribu pekerja tidak langsung, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.
Prabowo dalam sambutan menyampaikan kepercayaannya terhadap groundbreaking kali ini menjadi suatu sejarah yang memiliki nilai strategis.
Menurut Prabowo, dirinya yakin bahwa kunci dari pembangunan suatu bangsa berasal dari kemampuan untuk mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat.

Kata Prabowo, “Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan.”
Di satu sisi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam laporannya kembali menekankan arahan Presiden Prabowo agar hilirisasi harus berkeadilan.

Bahlil lalu mendorong seluruh pihak untuk memastikan bahwa proyek hilirisasi tidak hanya untuk investor dan pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan pemerintah dan masyarakat daerah.
Komentar Bahlil, “Jangan pengusaha Jakarta yang ada di daerah, tetapi pengusaha daerah yang ada di daerah. Agar apa? Jadikan anak-anak daerah menjadi tuan di negerinya sendiri.”
Perlu diketahui IBC saat ini memiliki tiga orang direksi, mereka adalah Toto Nugroho (Direktur Utama), Jeffrie N Korompis (Direktur Pengembangan dan Operasi), dan Reynaldi Istanto (Direktur Hubungan Kelembagaan).

Di tangan ketiga orang inilah kelak IBC akan diingat sebagai peletak dasar alias pondasi dari dimulainya ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di Tanah Air.
Toto Nugroho merupakan lulusan Universitas Indonesia pada 1992. Ia kemudian melanjutkan studinya di University of Texas dan meraih gelar Master of Chemical Engineering pada 2000, serta dari INSEAD Global Leadership, Singapura pada 2015.
Sedangkan Jeffrie, sosok ini memiliki daftar panjang karier di sektor keuangan, pertambangan dan perkeretaapian selama lebih dari 30 tahun dalam peran senior berikutnya di treasury, origination, perbankan investasi, pengembangan bisnis dan manajemen proyek, serta mengelola organisasi besar.
Sementara Reynaldi adalah alumni Ilmu Politik Universitas Brawijaya dan Advanced Master of Globalization and Development dari University of Antwerp, Belgia.
Ia pernah duduk sebagai staf ahli Menteri BUMN bidang Global Value Chains, di mana Reynaldi memimpin unit Global Relations and Investment Team, serta juga pernah sebagai Project Management Office BUMN untuk KTT G20, ASEAN Indo-Pacific Forum, dan KTT ASEAN.
(Red)