ABC NEWS – Posisi cadangan devisa per akhir Februari lalu hanya USD 154,5 miliar atau setara Rp 2.525,3 triliun (kurs Rp 16.345).
Kondisi cadangan devisa itu mengalami penurunan USD 1,6 miliar atau Rp 26,152 triliun dibandingkan posisi Januari 2025.
Perlu diketahui turunnya cadangan devisa itu untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) pada Jumat (7/3) mengumumkan, “Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Sekedar informasi, rupiah melemah 1,69 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang bulan lalu.
Rupiah menjadi mata uang Asia dengan depresiasi terdalam pada Februari. Bahkan rupiah sempat menyentuh level Rp 16.592 per dolar AS. Ini adalah yang terlemah sejak krisis moneter 1998.
Menurut BI, posisi cadangan devisa pada akhir Februari setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI kembali menulis, “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.”
“Ke depan, Bank Indonesia memandang posisi cadangan devisa memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal,” tulis BI.
(Red)